Jumat, 30 Mei 2014

laporan praktikum nyamuk

NYAMUK

I. TANGGAL PRAKTIKUM           : 30 MEI 2009
 JUDUL PRAKTIKUM                : NYAMUK

II. TINJAUAN PUSTAKA


Nyamuk termasuk kelas insecta, ordo diptera dan Famili Culicidae.Serangga ini selain menggangu manusia dan binatang melalui gigitannya, juga dapat berperan sebagai vector penyakit pada manusia dan binatang yang penyebabnya terdiri atas berbagai macam parasit. Parasit penyebab filariasis tunbuh, sedangkan parasit penyebab malaria tumbuh dan berkembang biak dan badan nyamuk menjadi bentuk infektif sebelum ditularkan dari penderita kepada orang yang sehat. Penyakit yang disebabkan oleh virus seperti DHF, chingkungannya dan demam kuning , virus penyebabnya, dalam badan nyamuk berkembang menjadi banyak sebelum ditularkan.

Pada umumnya nyamuk betina hidup lebih lama dari pada nyamuk jantan. Biasanya umur nyamuk kira-kira dua minggu, tetapi da nyamuk yang dapat hidup 2-3 bulan, misalnya ANOPHELES PUNCTIPENNIS  di amerika. Hospes yang disukai nyamuk juga berbeda-beda, ada yang mengisap darah manusia ( Antropofilih ), ada pula yang lebih suka mengisap binatang ( Zoopilih ) dan ada nyamuk yang lebih suka mengisap darah binatang jika dibandingkan denagn darah manusia yang disebut ANTROPOLOPILIK.

Nyamuk betina mempunyai jarak terbang lebih jauh dari pada nyamuk jantan. Daya terbang berbeda-beda menurut species. Aides Aegypti jarak terbangnya pendek. Kebanyakan nyamuk Anopheles dapat terbang sampai 1,6 km, sedangkan jarak terbang nyamuk Aides Vaxans dapat mencapai 30 km.      


Taksonomi
Pada umumnya Nyamuk termasuk ke dalam :
Phylum   : Arthropoda
Class       : Insecta
Ordo       : Diptera
Famili     : Culicidae
Genus      : - Anopheles
-         Culex
-         Aides
-         Mansonia

         Morfologi
Nyamuk berukuran kecil ( 4 – 13 mm ) dan rapuh. Kepalanya mempunyai probocis halus dan panjang yang melebihi panjang kepala. Pada nyamuk betina probocis dipakai sebagai alat untuk pengisap darah. Sedangkan pada nyamuk jantan untuk mengisap bahan-bahan cair seperti cairan tumbuh-tumbuhan, buah-buahan dan juga keringat. Di Probocis terdapat palpus yang terdiri atas 5 ruang dan sepasang antena yang terdiri atas 15 ruas. Antena pada nyamuk jantan berambut lebat ( plumose ) dan pada nyamuk betina jarang ( pilose ). Sebagian besar toralis yang tampak ( mesonotum ), yang diliputi bulu halus, bulu ini berwarna putih/ kuning dan membentuk gambaran yang dilihat untuk masing-masing species. Posterior dari mesonotum terdapat skutelum yang pada ANOPHELINI bentuknya melengkung dan pada CULICINI membentuk 3 lengkungan (trilobus). Sayap nyamuk panjang dan lansing. Mempunyai vena yang permukaan yang ditumbuhi sisik-sisik sayap yang letaknya mengikuti vena. Abdomen berbentuk silinder terdiri atas 10 ruas. Nyamuk mempunyai 3 pasang kaki ( helisapoda ) yang melekat pada toralis dan tiap kaki terdiri atas 1 ruas femur, 1 ruas tibia dan 5 ruas tarsus.


III. GAMBAR DAN KETERANGAN

             
                                                                             Halter

        Thorax                             Extremitas

Sayap

Caput




 































IV. PEMBAHASAN

Epidomiologi / Penyebaran
   Penentuan vektor malaria didasarkan atas penemuan Sporozoit malaria dikelejer liur nyamuk ANOPHELINI yang hidup di alam bebas. Cara yang digunakan adalah pembedahan nyamuk betina. Berbagai faktor yang perlu diketahui dalam rangka menetukan vaktor di suatu daerah edemi malaria adalah :
1.      Kebiasaan nyamuk ANOPHELINI mengisap darah manusia. 
2.      Lama hidup nyamuk betina dewasa yang lebih dari 10 hari.
3.      Nyamuk ANOPHELINI dengan kepadatan yang tinggi dan mendominasi species lain.
4.      Hasil percobaan infeksi di Laboratorium yang menunjukkan kemampuan untuk mengembangkan PLASMOIDIUM menjadi stadium sporozpit.

Prevalensi kasus malaria di satu daerah endemi malaria dan endemi malaria lainnya tidak sama, tergantung pada prilaku species nyamuk yang menjadi vektor. Di daerah cilacap yang vektor malarianya An.sundaicus, kasus malaria di temukan lebih banyak pada kemarau jika di bandingkan dengan musim hujan, karna pembentukan tempat dia sukai di muara sungai An.sundaicus meningkat. Sebaliknya yang vektor malarianya An.aconitus.Kasus malaria meningkat jumlahnya pada musim hujan.

Siklus Hidup
            Nyamuk mengalami metamorfosis : telur-larva-pupa-dewasa. Stadium telur, larva dan pupa hidup di dalam air sedangkan stadium dewasa hidup di udara. Nyamuk deawasa betina biasanya mengisap darah manusia dan binatang. Telur yang baru di letakkan berwarna putih, tetapi sesudah 1-2 jam berubah menjadi hitam. Pada genus Anopheles telur di letakkan satu persatu terpisah di permukaan air. Pada aides telur ini juga di letakkan satu persatu terpisah tetapi telur di temukan di tepi permukaan air dan containers. Pada genus culex dan mansonia telur di letakkan saling berdekatan sehingga membentuk rakit ( rart ). Telur culex di letakkan di atas permukaan air, sedangkan telur mansona di letakkan di balik permukaan daun tumbuh-tumbuhan air.
Setelah 2-4 hari telur akan menetas menjadi larva yang selalu hidup di dalam air. Larva terdiri atas 4 substadium ( instar ) yang mengambil makanan dari tempat pertumbuhan larva instar I – IV berlangsung 6 - 8 hari pada culex dan aides, sedangkan pada mansonia waktunya 3 minggu. Larva tumbuh menjadi melalui pernapasan ( breathing trumpet ). Untuk tumbuh menjadi nyamuk dewasa di perlukan waktu 1 – 3 hari sampai beberapa minggu. Pupa jantan menetas lebih dahulu, nyamuk jantan ini biasanya tidak pergi jauh dari tempatnya, untuk menunggu nyamuk betina untuk berkopulasi. Nyamuk betina kemudian mengisap darah yang di perlukan untuk pembentuka telur, tetapi ada beberapa species yang tidak memerlukan darah untuk pembentukan telurnya ( autogen ), masalnya Toxorhynchites amboinensis.

Kunci Identifikasi
            Pada stadium dewasa palpus jantan dan palpus betina mempunyai panjang hampir sama dengan panjang probosisnya. Perbedaannya adalah pada nyamuk jantan ruas palpus bagian apikal berbentuk gada ( club form ), sedangkan pada nyamuk betina ruas tersebut mengecil. Sayap pada bagian pinggir ( kosta dan vena I ) di tumbuhi sisik-sisik sayap yang berkelompok membentuk gambaran belang-belang hitam dan putih. Bagian ujung sisik sayap membentuk lengkung tumpul. Bagian posterior abdomen tidak seruncing nyamuk aides dan juga tidak setumpul nyamuk mansonia, tetapi sedikit melancip.








V. DAFTAR PUSTAKA

Bettini S. 2002. Artropoda Venoms. Berlin, Heidelberg. New York. Springer Verkag

Ganda husada Srisasi, 2000. Parasitologi Kedokteran Edisi ketiga. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; Jakarta.

Smith KGV. 2001 Insects and other Artropoda of medical Importance. British Musium (national history); London.

Kamaruddin, Mufti dkk. 2003. Buku Ajar Parasitologi Veteriner. Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh.

Norman. D, Levine. 1990. Parasitologi Veteriner. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta


.





Kamis, 29 Mei 2014

Dirofilaria immitis

Unsyiah-logo

Disusun  Oleh :
INDRA SITORUS



FAKUlTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2014



Pendahuluan
Jantung adalah  bagian dari sistem kardiovaskular yang merupakan salah satu sistem yang vital bagi tubuh hewan (hewan yang bernapas dengan jantung)  dan manusia  dimana jantung berfungsi mengatur sirkulasi darah yaitu memompa darah arterial ke seluruh tubuh dan memompa darah venous ke pulmo untuk dibersihkan. Jika terjadi gangguan pada jantung maka fungsi pemompaan darah akan terganggu dan bahkan bisa berujung kematian.
Penyakit cacing jantung disebabkan oleh cacing kelas Nematoda, family Onchocercidae , genus Dirofilaria dan spesies Dirofilaria immitis. Dirofilaria immitis dapat menginfeksi anjing,kucing, serigala, rubah, ferret, tikus air, singa laut, orangutan dan manusia. Dirofilaria immitis membutuhkan vector biologis dalam sebagian perkembangannya. ketika dewasa cacing Dirofilaria immitis ini hidup di ventrikel dexter, arteri pulmonalis & vena cava host defenitif.
Infeksi cacing jantung/dirofilariasis telah tersebar luas di daerah tropis, subtropis, dan daerah beriklim sedang. Dirofilaria immitis (D. immitis) khususnya pada anjing, telah banyak diteliti dan dilaporkan, mulai dari epidemiologi, sifat penyakit, siklus hidup dan penularan, sifat antigen, interaksi parasit dan inang, teknik diagnostik dan tentang terapi. Gejala klinik D. immitis tergantung dari banyaknya cacing dewasa dan mikrofilaria di dalam tubuh penderita.
Cacing jantung adalah parasit cacing gelang yang dikenal dengan Dirofilaria immitis. cacing ini dapat menyebar dari hewan terpapar ke hewan lainnya melalui gigitan nyamuk. Cacing jantung adalah cacing yang termasuk jenis cacing filaria karena cacing ini terlihat seperti benang kecil. Host definitif adalah anjing. Tetapi cacing ini juga dapat menginfeksi kucing, serigala, coyote, rubah dan hewan lainnya, seperti musang, singa laut dan bahkan ada ditemukan mampu menginfeksi manusia.
Cacing ini memiliki sistem perkembangbiakan secara vivipar, menghasilkan stadium larva pertama yang motil, disebut mikrofilaria (Boreham 1988).
Nematoda Fillaria immitis, dikenal juga sebagai Filaria sanguinis atauDirofilaria lousianensis Faust (Beaver, Cupp dan Jung, 1984), suatu cacing dari genus Dirofilaria yang merupakan agen penyebab Canine Heartworm Disease (CHD) pada anjing, Human Pulmonary Dirofilariasis (HPD ).
Infeksi alami pada anjing/kucing sehat terjadi diawalai oleh gigitan nyamukseperti Anopheles atau Culex  yang membawa larva microfilaria infektif stadium 3 (L3).
 Infeksi cacing jantung ini dapat menyebabkan penyakit serius bagi hewan yang terinfeksi. vektor larva Dirofilaria immitis  adalah nyamuk yang dapat membawa Dirofilaria immitis ke tahap (infektif) L3 seperti : Culex pipiens (sering menginfeksi kucing), Anopheles maculipennis, Coquillettidia richiardii, Aedes triseriatus, Ochlerotatus notoscriptus (lazim di Australia),Aedes albopictus, Aedes aegypti, Culex quinquefasciatus, Aedes taeniorhynchus, Aedes scapularis, Aedes trivittatus.
Kingdom
Animalia
Phylum
Nematoda
Class
Secernenta
Subclass
Spiruriria
Ordo
Spiruidar
Family
Onchocercidae
Genus
Dirofilaria
Spesies
D.immitis









Binomial name:Dirofilaria immitis    (Leidy, 1856)




Dirofilaria immitis (leidy)/cacing jantung
Secara ilmiah Dirofilaria immitis diklasifikasikan sebagai berikut.
Kingdom                     :Animalia
Subkingdom                :Eumetazoa
(unranked)                   :Bilateria
Superphylum               :Platyzoa
Phylum                        :Nematoda
Class                            :Secernentea
Subclass:                     :Spiruria
Ordo                            :Spirurida                                                                                                    Superfamilia                    :filariodea
Family                         :Onchocercidae
Genus                          :Dirofilaria
Species                        :D.immitis
Binomial name            :Dirofilaria immitis

Cacing jantung adalah parasit cacing gelang yang dikenal dengan nama Dirofilaria immitis. Cacing ini dapat menyebar dari hewan terinfeksi ke hewan lainnya  bahkan bisa juga tertular ke manusia melalui gigitan nyamuk. Dirofilaria immitis juga dikenal dengan nama Leidy karena yang pertama sekali menemukan parasit ini adalah J.Leidy pada tahun 1850. Dirofilaria immitis  termasuk dalam filum Nemathelminthes. Cacing ini merupakan agen penyebab Heartworm disease pada anjing dan kucing atau human pulmonary disease (HPD) pada manusia. Cacing dewasa mempunyai bentuk tubuh bulat,  panjang, langsing, berwarna putih. Habitat cacing dewasa pada hewan (anjing dan kucing) berada dalam pembuluh darah dan jantung yaitu inang definitif (ventrikel kanan, arteri pulmonalis, dan vena cava posterior) sedangkan pada manusia berada dalam pulmo. Cacing jantan memiliki ukuran 12-18 cm sedangkan cacing betina 25-30 cm cacing betina lebih besar dan panjang daripada cacing jantan karena mereka memproduksi telur. Cacing ini memiliki sistem perkembangbiakan secara vivipar, menghasilkan stadium larva pertama yang motil, disebut mikrofilaria. Mikrofilaria dalam darah berukuran panjang  307 – 322 μm, lebar 6.8 μm. Microfilaria dalam darah tidak mempunyai selubung, ujung anterior panjang, ujung posterior tumpul.
Gambar.  anatomi Dirofilaria Immitis
Berikut adalah vektor yang membawa Dirofilaria Immitis :
Text Box: Cx. fusocephalusText Box: Cx. tritaeniorhyncusText Box: Cx. quinquefasciatusText Box: Armigeres sulbatus
Siklus hidup
Dalam siklusnya, Dirofilaria immitis memiliki dua fase perkembangan yaitu fase larva (L1- L5) dan fase dewasa. Fase larva dapat berlangsung pada host intermediar/vector biologis dan host defenitif. Klasifikasi host/induk semang sebagai berikut.
1.      Host  reservoar,adalah hewan yang telah terinfeksi Dirofilaria immitis dan bersifat menular baik terhadap sesama hewan maupun manusia.
2.       Host intermediar atau vector biologis, adalah host tempat sebagian perkembangan (siklus hidup) dari Dirofilaria immitis. Contoh nyamuk yaitu Anopheles macullipennis,  Aedes aegypti, Aedes albopictus, Culex quinquefasciatus, Aedes sierrensis, Aedes triserria, Aedes vexan, Armigeres subalbatus dan lain-lain.
3.      Host defenitif, adalah host tempat perkembangan L3 sampai dewasa dan berkembangbiak menghasilkan telur dan microfilaria. Contoh anjing,kucing,musang,serigala dan hewan lainnya bahkan manusia.

 Dalam tubuh vector biologis  berlangsung fase larva yaitu dimulai dari  L1 hingga L3, sedangkan dalan host defenitif berlangsung perkembangan L3 hingga dewasa dan berkembangbiak.

Proses perkembangan cacing jantung yaitu dimulai dari vector biologis (nyamuk) menyedot darah dari host reservoar yang mengandung microfilaria (L1). Microfilaria tersebut ikut tersedot kedalam tubuh nyamuk. Mikrofilaria (mf) dalam tubuh nyamuk akan mengalami perkembangan di tubuli malphigi dimulai dari pelepasan kantung pembungkus kemudian menjadi larva stadium kedua (L2) hingga mencapai larva infektif atau stadium ketiga (L3) yang memerlukan waktu 10-13 hari. Larva infektif tersebut (L3) akan berpindah ke kelenjar ludah nyamuk, lalu menunggu sampai saat nyamuk mengigit host defenitif. Lama waktu Perkembangan  L1 hingga L3 tidak selalu sama terhadap semua hewan, salah satunya tergantung pada habitat hewan tersebut. Disini perlu diketahui bahwa perkembangan L1-L3 sangat bergantung pada suhu lingkungan nyamuk, karena nyamuk tidak bisa hidup pada suhu ekstrem. Apabila vector biologis berada pada suhu yang terlalu panas atau terlalu dingin,maka vector biologis akan mati dan otomatis larva juga akan ikut mati.

 Pada saat vector biologis menyedot darah host defenitif, L3 akan masuk ke tubuh host defenitif dan berjalan melalui pembuluh darah menuju predileksinya yaitu jantung. Pada tubuh  inang definitif larva akan berkembang lebih lanjut dan membutuhkan waktu selama 6 sampai 7 bulan untuk mengalami perkembangan kedua dan perkembangan menuju kematangan seksual. Pada anjing larva akan berkembang dari L3 menjadi L4 dalam waktu 15 hari setelah dua sampai lima hari anjing digigit nyamuk yang mengandung larva Dirofilaria immitis. Perkembangan selanjutnya dari L4 menjadi L5 tersembunyi selama dua bulan ke depan . Pada L5 sudah dianggap dewasa muda dan sudah menyerang jaringan host definitif pada jantung selama 70 hari setelah cacing masuk kedalam host definitive. Mayoritas L5 akan sampai ke jantung dalam 90 hari. Di jantung, cacing akan menetap dan berkembang cepat dari panjang sampai ukuran tubuh. Cacing akan tinggal dan dapat hidup selama 5 sampai 7 tahun. Pada manusia cacing ini bukan menyerang jantung melainkan paru-paru, karena pembuluh darah jantung manusia (arteri pulmonalis) berdiameter besar sehingga cacing yang berada pada daerah ini tidak leluasa dan terdorong bersama darah menuju paru-paru. Cacing ini akhirnya bertahan di paru-paru karena pembuluh darah paru-paru berdiameter kecil sesuai dengan kebutuhan parasit ini sehingga disebut human pulmonary disease (HPD).

Pematangan seksual membutuhkan waktu selama tiga bulan setelah tiba di jantung. Cacing ini terus bertambah panjang setelah mencapai kematangan seksual dan cacing betina akan memulai pelepasan mikrofilaria di dalam darah. Kembali lagi bahwa lama fase perkembangan larva menjadi cacing dewasa dan berkembangbiak menghasilkan microfilaria berbeda setiap hewan, bergantung pada habitat,jenis, dan keadaan lingkungan. Apabila jumlah Dirofilaria immtis dalam tubuh host defenitif sedikit, maka gejala klinis belum tampak dan apabila jumlah cacing ini banyak dalam pembuluh darah, maka caing ini akan menghambat sirkulasi darah sehingga menimbulkan gagal jantung. Secara singkat siklus dari Dirofilaria immitis  memiliki beberapa faktor yang penting yaitu vector biologis, keadaan lingkungan yang mendukung perkembangan larva, keberadaan dari host definitif baik sebagai sumber infeksi maupun individu yang tertular.


Gambar. siklus hidup Dirofilaria immitis
Diagnosa.

            Untuk mendiagnosa penyakit ini dapat dilakukan dengan beberapa metode antara lain dengan metode langsung (natif), teknik mikrohematokrit, teknik Knoot, teknik filter. Pada metode langsung (natif) darah sampel diambil sedikit lalu dicampur dengan cairan saline fisiologis, akan terlihat di mikroskop mikrofilaria yang motil dan aktif bergerak (filaria dance). Tetapi untuk melakukan metode ini diperlukan pengalaman yang cukup agar dapat menghasilkan hasil yang baik. Teknik mikrohematokrit menggunakan hematokrit darah sampel yang telah disentrifuse, mikrofilaria akan ditemukan pada plasma darah (buffy coat). Teknik Knoot menggunakan satu milimeter darah ditambahkan dengan 9 ml formalin 2%. Kemudian dicampur hingga darah terhemolisis lalu disentrifuse dengan 1500 rpm selama 5 menit. Lalu endapan didasar diambil sebanyak 0.5 atau 1 ml, maka akan terlihat mikrofilaria. Mikrofilaria kan terlihat dan mudah untuk dihitung. Teknik filter menggunakan darah sebanyak 1 ml yang dicampur dengan larutan pelisis (biasanya 9 ml) untuk melisiskan sel darah merah. Setelah itu dilakukan penyaringan dengan filter mebran, hasil filtrate tersebut kemudian diperiksa di bawah mikroskop.
            Metode yang mudah dan efektif dalam hasil adalah teknik filter dan teknik Knott. Keduanya memiliki keuntungan masing – masing dan tergantung dari inang dan parasitnya. Selain metode diatas dapat pula dilakukan metode yang lebih modern antara lain dengan melakukan X-rays dan Heartworm antigen test. Pada X-rays dilakukan pada daerah pembuluh darah yang diduga merupakan habitat dari mikrofilaria, tekniknya dinamakan angiografi. Sedangkan untuk Heartworm antigen test menggunakan serum yang berasal dari sampel darah yang kemudian akan ditambahkan reagen khusus, metode ini menggunakan prinsip ELISA. Selain metode yang dijelaskan sebelumnya, kita dapat juga melakukan pemeriksaan patologi klinis, pemeriksaan yang dianjurkan antara lain pemeriksaan laju endap darah (LED), yang akan meningkat pada kasus cacing jantung lalu elektrokardiografi (EKG) untuk mengenali gangguan impuls oleh kelainan katub jantung, dan dapat pula dilakukan pemeriksaan darah lengkap agar dapat dilihat derajat keparahan dari kasus ini ( Yuvianto, 2008 ).


Pengobatan
Rekomendasi saat ini oleh Masyarakat heartworm Amerika menyarankan bahwa semua anjing dengan hasil tes antigen positif sepenuhnya dievaluasi sebelum memulai pengobatan heartworm. Evaluasi ini harus mencakup riwayat kesehatan menyeluruh, pemeriksaan fisik, radiografi survei, CBC, profil biokimia, dan urinalysis. Prosedur-prosedur dan tes akan membantu panggung keparahan penyakit heartworm serta mengidentifikasi penyakit bersamaan .


            Ada dua pilihan untuk pengobatan penyakit cacing jantung. Yang pertama adalah melalui serangkaian suntikan intramuskular mendalam dihidroklorida melarsomine ke dalam otot lumbar epaxial.
Pilihan kedua untuk pengobatan cacing hati dewasa adalah dosis profilaksis terus menerus dari Ivermectin. Proses ini dapat berlangsung hingga 2 tahun untuk penghapusan lengkap cacing dewasa.
          Pencegahan penyakit cacing jantung dapat dengan mudah dicegah dengan pengobatan berkala. Semua anjing di daerah endemis harus pada profilaksis  sepanjang tahun dan khususnya selama musim vektor diwilayah ketika nyamuk yang lazim dan aktif.
Untuk kondisi tropis atau hiperendemik seperti di Indonesia tindakan pencegahan dianjurkan untuk dilakukan sepanjang tahun. Namun demikianuntuk kondisi Indonesia program pencegahan penularan cacing jantung diantaranya anjing belum dibakukan oleh karena kasus klinik yang sangat jarang (S.Widodo dan T.fadrial Kamil,1995).


Kesimpulan

1.      Vector biologis/host intermediar sangat dibutuhkan dalam proses sebagian perkembangan Dirofilaria immitis.
2.      Selain factor vector biologis, suhu lingkungan juga sangat berpengaruh pada proses perkembangan Dirofilaria immitis karena apabila suhu lingkungan itu ekstrem, maka host intermediar tidak bisa hidup dan secara otomatis cacing ini juga ikut mati serta factor selanjutnya adalah keberadaan host defenitif.
3.      Lama waktu perkembangan dari L1 hingga dewasa dan sampai mengalami pematangan seksual membutuhkan waktu yang berbeda-beda diantara Dirofilaria immitis, ini bergantung pada habitat host baik itu host intermediar maupun host defenitif.
4.      Apabila jumlah Dirofilaria immtis dalam tubuh host defenitif sedikit, maka gejala klinis belum tampak dan apabila jumlah cacing ini banyak dalam pembuluh darah, maka caing ini akan menghambat sirkulasi darah sehingga menimbulkan gagal jantung.

Daftar pustaka
Anonimous: http://www.vet.uga.edu/vpp/clerk/Lobeck/index.php, Diakses pada hari Kamis,16 mei 2014

Boreham, Peter F.L, et.al. 1988. Dirofilariasis. United States: CRC Press, Inc.
Latimer, Kenneth S. dan Charles Lobeck. 2008. Dirofilariasis in the Dog: An Overview. Georgia: Department of pathology College of veterinary Medicine, University of Georgia
Subronto. 2006. Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba pada Anjing dan Kucing. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Taylor, Mike A, et.al. 2007. Veterinary Parasithology. Oxford: Blackwell Publishing
Widodo,S dan T.Fadrial Kamal.1995. Cacing jantung Dirofilaria immitis pada anjing.Media Veteriner vol. lI.Bogor