Dirofilaria immitis
Disusun Oleh :
FAKUlTAS
KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS
SYIAH KUALA
BANDA
ACEH
2014
Pendahuluan
Jantung adalah bagian
dari sistem kardiovaskular yang merupakan salah satu sistem yang vital bagi
tubuh hewan (hewan yang bernapas dengan jantung) dan manusia
dimana jantung berfungsi mengatur sirkulasi darah yaitu memompa darah
arterial ke seluruh tubuh dan memompa darah venous ke pulmo untuk dibersihkan.
Jika terjadi gangguan pada jantung maka fungsi pemompaan darah akan terganggu
dan bahkan bisa berujung kematian.
Penyakit cacing jantung disebabkan oleh cacing kelas
Nematoda, family Onchocercidae ,
genus Dirofilaria dan spesies Dirofilaria immitis. Dirofilaria
immitis dapat menginfeksi anjing,kucing, serigala, rubah, ferret, tikus
air, singa laut, orangutan dan manusia. Dirofilaria immitis membutuhkan vector
biologis dalam sebagian perkembangannya. ketika dewasa cacing Dirofilaria
immitis ini hidup di ventrikel dexter, arteri pulmonalis & vena cava host
defenitif.
Infeksi
cacing jantung/dirofilariasis telah tersebar luas di daerah tropis, subtropis,
dan daerah beriklim sedang. Dirofilaria
immitis (D. immitis) khususnya
pada anjing, telah banyak diteliti dan dilaporkan, mulai dari epidemiologi,
sifat penyakit, siklus hidup dan penularan, sifat antigen, interaksi parasit
dan inang, teknik diagnostik dan tentang terapi. Gejala klinik D. immitis tergantung dari banyaknya cacing
dewasa dan mikrofilaria di dalam tubuh penderita.
Cacing jantung adalah parasit cacing gelang yang dikenal
dengan Dirofilaria immitis. cacing ini dapat menyebar dari hewan
terpapar ke hewan lainnya melalui gigitan nyamuk. Cacing jantung adalah cacing
yang termasuk jenis cacing filaria karena cacing ini terlihat seperti benang
kecil. Host definitif adalah anjing. Tetapi cacing ini juga dapat menginfeksi
kucing, serigala, coyote, rubah dan hewan lainnya, seperti musang, singa laut
dan bahkan ada ditemukan mampu menginfeksi manusia.
Cacing ini memiliki sistem perkembangbiakan secara vivipar,
menghasilkan stadium larva pertama yang motil, disebut mikrofilaria (Boreham
1988).
Nematoda Fillaria immitis, dikenal juga sebagai Filaria
sanguinis atauDirofilaria lousianensis Faust (Beaver, Cupp
dan Jung, 1984), suatu cacing dari genus Dirofilaria yang merupakan agen
penyebab Canine Heartworm Disease (CHD) pada anjing, Human Pulmonary
Dirofilariasis (HPD ).
Infeksi alami pada anjing/kucing sehat terjadi diawalai oleh
gigitan nyamukseperti Anopheles atau Culex yang membawa larva
microfilaria infektif stadium 3 (L3).
Infeksi cacing jantung ini dapat menyebabkan penyakit
serius bagi hewan yang terinfeksi. vektor larva Dirofilaria
immitis adalah nyamuk yang dapat membawa Dirofilaria
immitis ke tahap (infektif) L3 seperti : Culex pipiens (sering
menginfeksi kucing), Anopheles maculipennis, Coquillettidia
richiardii, Aedes triseriatus, Ochlerotatus
notoscriptus (lazim di Australia),Aedes albopictus, Aedes aegypti, Culex
quinquefasciatus, Aedes taeniorhynchus, Aedes scapularis, Aedes trivittatus.
|
Kingdom
|
Animalia
|
|
Phylum
|
Nematoda
|
|
Class
|
Secernenta
|
|
Subclass
|
Spiruriria
|
|
Ordo
|
Spiruidar
|
|
Family
|
Onchocercidae
|
|
Genus
|
Dirofilaria
|
|
Spesies
|
D.immitis
|
Binomial name:Dirofilaria immitis (Leidy,
1856)
Dirofilaria
immitis (leidy)/cacing jantung
Secara ilmiah Dirofilaria
immitis diklasifikasikan sebagai berikut.
Kingdom :Animalia
Subkingdom :Eumetazoa
(unranked) :Bilateria
Superphylum :Platyzoa
Phylum :Nematoda
Class :Secernentea
Subclass: :Spiruria
Ordo :Spirurida
Superfamilia :filariodea
Family :Onchocercidae
Genus :Dirofilaria
Species :D.immitis
Binomial name :Dirofilaria immitis
Cacing jantung adalah parasit cacing gelang yang dikenal
dengan nama Dirofilaria immitis.
Cacing ini dapat menyebar dari hewan terinfeksi ke hewan lainnya bahkan bisa juga tertular ke manusia melalui
gigitan nyamuk. Dirofilaria immitis
juga dikenal dengan nama Leidy karena yang pertama sekali menemukan parasit ini
adalah J.Leidy pada tahun 1850. Dirofilaria
immitis termasuk dalam filum Nemathelminthes. Cacing ini merupakan
agen penyebab Heartworm disease pada anjing dan kucing atau human pulmonary
disease (HPD) pada manusia. Cacing dewasa mempunyai bentuk tubuh bulat, panjang, langsing, berwarna putih. Habitat
cacing dewasa pada hewan (anjing dan kucing) berada dalam pembuluh darah dan
jantung yaitu inang definitif (ventrikel kanan, arteri pulmonalis, dan vena
cava posterior) sedangkan pada manusia berada dalam pulmo. Cacing jantan
memiliki ukuran 12-18 cm sedangkan cacing betina 25-30 cm cacing betina lebih
besar dan panjang daripada cacing jantan karena mereka memproduksi telur. Cacing ini
memiliki sistem perkembangbiakan secara vivipar, menghasilkan stadium larva
pertama yang motil, disebut
mikrofilaria.
Mikrofilaria dalam darah berukuran panjang
307 – 322 μm, lebar 6.8 μm. Microfilaria dalam darah tidak mempunyai
selubung, ujung anterior panjang, ujung posterior tumpul.

Gambar. anatomi Dirofilaria Immitis
Berikut adalah vektor yang
membawa Dirofilaria Immitis :
Siklus hidup
Dalam
siklusnya, Dirofilaria immitis memiliki
dua fase perkembangan yaitu fase larva (L1- L5) dan fase dewasa. Fase larva
dapat berlangsung pada host intermediar/vector biologis dan host defenitif.
Klasifikasi host/induk semang sebagai berikut.
1.
Host
reservoar,adalah hewan yang telah terinfeksi Dirofilaria immitis dan bersifat menular baik terhadap sesama hewan
maupun manusia.
2. Host intermediar atau vector biologis, adalah
host tempat sebagian perkembangan (siklus hidup) dari Dirofilaria immitis. Contoh nyamuk yaitu Anopheles macullipennis, Aedes
aegypti, Aedes albopictus, Culex quinquefasciatus, Aedes sierrensis, Aedes
triserria, Aedes vexan, Armigeres subalbatus dan lain-lain.
3.
Host defenitif, adalah host tempat
perkembangan L3 sampai dewasa dan berkembangbiak menghasilkan telur dan
microfilaria. Contoh anjing,kucing,musang,serigala dan hewan lainnya bahkan
manusia.
Dalam tubuh vector biologis berlangsung fase larva yaitu dimulai
dari L1 hingga L3, sedangkan dalan host
defenitif berlangsung perkembangan L3 hingga dewasa dan berkembangbiak.
Proses
perkembangan cacing jantung yaitu dimulai dari vector biologis (nyamuk)
menyedot darah dari host reservoar yang mengandung microfilaria (L1).
Microfilaria tersebut ikut tersedot kedalam tubuh nyamuk. Mikrofilaria (mf) dalam tubuh nyamuk
akan mengalami perkembangan di tubuli malphigi dimulai dari pelepasan kantung
pembungkus kemudian menjadi larva stadium kedua (L2) hingga mencapai larva
infektif atau stadium ketiga (L3) yang memerlukan waktu 10-13 hari. Larva
infektif tersebut (L3) akan berpindah ke kelenjar ludah nyamuk, lalu menunggu
sampai saat nyamuk mengigit host defenitif. Lama waktu Perkembangan L1 hingga L3 tidak selalu sama terhadap semua
hewan, salah satunya tergantung pada habitat hewan tersebut. Disini perlu
diketahui bahwa perkembangan L1-L3 sangat bergantung pada suhu lingkungan
nyamuk, karena nyamuk tidak bisa hidup pada suhu ekstrem. Apabila vector
biologis berada pada suhu yang terlalu panas atau terlalu dingin,maka vector
biologis akan mati dan otomatis larva juga akan ikut mati.
Pada saat vector biologis menyedot darah host
defenitif, L3 akan masuk ke tubuh host defenitif dan berjalan melalui pembuluh
darah menuju predileksinya yaitu jantung. Pada tubuh inang definitif larva akan berkembang lebih
lanjut dan membutuhkan waktu selama 6 sampai 7 bulan untuk mengalami
perkembangan kedua dan perkembangan menuju kematangan seksual. Pada anjing
larva akan berkembang dari L3 menjadi L4 dalam waktu 15 hari setelah dua sampai
lima hari anjing digigit nyamuk yang mengandung larva Dirofilaria immitis. Perkembangan selanjutnya dari L4 menjadi L5
tersembunyi selama dua bulan ke depan . Pada L5 sudah dianggap dewasa muda dan
sudah menyerang jaringan host definitif pada jantung selama 70 hari setelah
cacing masuk kedalam host definitive. Mayoritas L5 akan sampai ke jantung dalam
90 hari. Di jantung, cacing akan menetap dan berkembang cepat dari panjang
sampai ukuran tubuh. Cacing akan tinggal dan dapat hidup selama 5 sampai 7
tahun. Pada manusia cacing ini bukan menyerang jantung melainkan paru-paru,
karena pembuluh darah jantung manusia (arteri pulmonalis) berdiameter besar
sehingga cacing yang berada pada daerah ini tidak leluasa dan terdorong bersama
darah menuju paru-paru. Cacing ini akhirnya bertahan di paru-paru karena
pembuluh darah paru-paru berdiameter kecil sesuai dengan kebutuhan parasit ini
sehingga disebut human pulmonary disease (HPD).
Pematangan
seksual membutuhkan waktu selama tiga bulan setelah tiba di jantung. Cacing ini
terus bertambah panjang setelah mencapai kematangan seksual dan cacing betina
akan memulai pelepasan mikrofilaria di dalam darah. Kembali lagi bahwa lama
fase perkembangan larva menjadi cacing dewasa dan berkembangbiak menghasilkan
microfilaria berbeda setiap hewan, bergantung pada habitat,jenis, dan keadaan
lingkungan. Apabila jumlah Dirofilaria
immtis dalam tubuh host defenitif sedikit, maka gejala klinis belum tampak
dan apabila jumlah cacing ini banyak dalam pembuluh darah, maka caing ini akan
menghambat sirkulasi darah sehingga menimbulkan gagal jantung. Secara singkat
siklus dari Dirofilaria immitis memiliki beberapa faktor yang penting yaitu
vector biologis, keadaan lingkungan yang mendukung perkembangan larva,
keberadaan dari host definitif baik sebagai sumber infeksi maupun individu yang
tertular.
Gambar.
siklus hidup Dirofilaria immitis
Diagnosa.
Untuk mendiagnosa penyakit ini dapat
dilakukan dengan beberapa metode antara lain dengan metode langsung (natif),
teknik mikrohematokrit, teknik Knoot, teknik filter. Pada metode langsung
(natif) darah sampel diambil sedikit lalu dicampur dengan cairan saline
fisiologis, akan terlihat di mikroskop mikrofilaria yang motil dan aktif bergerak
(filaria dance). Tetapi untuk melakukan metode ini diperlukan pengalaman yang
cukup agar dapat menghasilkan hasil yang baik. Teknik mikrohematokrit
menggunakan hematokrit darah sampel yang telah disentrifuse, mikrofilaria akan
ditemukan pada plasma darah (buffy coat). Teknik Knoot menggunakan satu
milimeter darah ditambahkan dengan 9 ml formalin 2%. Kemudian dicampur hingga
darah terhemolisis lalu disentrifuse dengan 1500 rpm selama 5 menit. Lalu
endapan didasar diambil sebanyak 0.5 atau 1 ml, maka akan terlihat
mikrofilaria. Mikrofilaria kan terlihat dan mudah untuk dihitung. Teknik filter
menggunakan darah sebanyak 1 ml yang dicampur dengan larutan pelisis (biasanya
9 ml) untuk melisiskan sel darah merah. Setelah itu dilakukan penyaringan
dengan filter mebran, hasil filtrate tersebut kemudian diperiksa di bawah
mikroskop.
Metode yang mudah dan efektif dalam
hasil adalah teknik filter dan teknik Knott. Keduanya memiliki keuntungan
masing – masing dan tergantung dari inang dan parasitnya. Selain metode diatas
dapat pula dilakukan metode yang lebih modern antara lain dengan melakukan
X-rays dan Heartworm antigen test. Pada X-rays dilakukan pada daerah pembuluh
darah yang diduga merupakan habitat dari mikrofilaria, tekniknya dinamakan
angiografi. Sedangkan untuk Heartworm antigen test menggunakan serum yang
berasal dari sampel darah yang kemudian akan ditambahkan reagen khusus, metode
ini menggunakan prinsip ELISA. Selain metode yang dijelaskan sebelumnya, kita
dapat juga melakukan pemeriksaan patologi klinis, pemeriksaan yang dianjurkan
antara lain pemeriksaan laju endap darah (LED), yang akan meningkat pada kasus
cacing jantung lalu elektrokardiografi (EKG) untuk mengenali gangguan impuls
oleh kelainan katub jantung, dan dapat pula dilakukan pemeriksaan darah lengkap
agar dapat dilihat derajat keparahan dari kasus ini ( Yuvianto, 2008 ).
Pengobatan
Rekomendasi saat ini oleh Masyarakat heartworm Amerika
menyarankan bahwa semua anjing dengan hasil tes antigen positif sepenuhnya
dievaluasi sebelum memulai pengobatan heartworm. Evaluasi ini harus
mencakup riwayat kesehatan menyeluruh, pemeriksaan fisik, radiografi survei,
CBC, profil biokimia, dan urinalysis. Prosedur-prosedur dan tes akan
membantu panggung keparahan penyakit heartworm serta mengidentifikasi penyakit
bersamaan .
Ada
dua pilihan untuk pengobatan penyakit cacing jantung. Yang pertama adalah
melalui serangkaian suntikan intramuskular mendalam dihidroklorida melarsomine
ke dalam otot lumbar epaxial.
Pilihan kedua untuk pengobatan cacing hati dewasa adalah
dosis profilaksis terus menerus dari Ivermectin. Proses ini dapat berlangsung
hingga 2 tahun untuk penghapusan lengkap cacing dewasa.
Pencegahan
penyakit cacing jantung dapat dengan mudah dicegah dengan pengobatan berkala.
Semua anjing di daerah endemis harus pada profilaksis sepanjang
tahun dan khususnya selama musim vektor diwilayah ketika nyamuk yang lazim dan
aktif.
Untuk kondisi tropis atau hiperendemik seperti di Indonesia
tindakan pencegahan dianjurkan untuk dilakukan sepanjang tahun. Namun
demikianuntuk kondisi Indonesia program pencegahan penularan cacing jantung
diantaranya anjing belum dibakukan oleh karena kasus klinik yang sangat jarang
(S.Widodo dan T.fadrial Kamil,1995).
Kesimpulan
1.
Vector biologis/host intermediar
sangat dibutuhkan dalam proses sebagian perkembangan Dirofilaria immitis.
2.
Selain factor vector biologis, suhu
lingkungan juga sangat berpengaruh pada proses perkembangan Dirofilaria immitis karena apabila suhu
lingkungan itu ekstrem, maka host intermediar tidak bisa hidup dan secara
otomatis cacing ini juga ikut mati serta factor selanjutnya adalah keberadaan
host defenitif.
3.
Lama waktu perkembangan dari L1
hingga dewasa dan sampai mengalami pematangan seksual membutuhkan waktu yang
berbeda-beda diantara Dirofilaria immitis,
ini bergantung pada habitat host baik itu host intermediar maupun host
defenitif.
4.
Apabila jumlah Dirofilaria immtis dalam tubuh host defenitif sedikit, maka gejala
klinis belum tampak dan apabila jumlah cacing ini banyak dalam pembuluh darah,
maka caing ini akan menghambat sirkulasi darah sehingga menimbulkan gagal
jantung.
Daftar
pustaka
Boreham, Peter F.L, et.al. 1988. Dirofilariasis. United States: CRC
Press, Inc.
Latimer, Kenneth S. dan Charles Lobeck. 2008. Dirofilariasis in the Dog: An Overview. Georgia: Department of
pathology College of veterinary Medicine, University of Georgia
Subronto. 2006. Penyakit Infeksi
Parasit dan Mikroba pada Anjing dan Kucing. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press
Taylor, Mike A, et.al. 2007. Veterinary Parasithology. Oxford: Blackwell Publishing
Widodo,S dan T.Fadrial
Kamal.1995. Cacing jantung Dirofilaria immitis pada anjing.Media
Veteriner vol. lI.Bogor